BUKU

“1 hal yang membuat saya benci dengan kemiskinan, yaitu karena saya tidak mampu membeli buku”
Malam ini 22.49 wib (9/8/08) saya masih di Surabaya, sejak 3 hari yang lalu saya sangat menikmati kota pahlawan dengan segala hingar bingarnya. Seperti biasa ada si Mat (panggilan bima) a.k.a Yayat (panggilan surabaya) my little brother, yang selalu setia mengantarkan saya ke segala penjuru kota. Surabaya, setidaknya mengingatkan saya pada kehidupan saat saya kuliah di jakarta, hingar bingar, bising tapi menawarkan semua kemudahan
Tapi ada salah satu penyebab yang lain, mengapa saya selalu menikmati kehidupan di kota-kota besar, yaitu jalan2 ke toko buku. Saya selalu menikmati n berusaha untuk mengunjungi toko buku di kota2 yang saya singgahi, dan seperti biasa air liur saya tidak terasa keluar ketika melihat deretan buku2 yang terpajang dengan indahnya di masing2 rak. Kadang saya punya pikiran kotor untuk merampok buku2 yang ada ato pikiran usil, ingin macarin anak pemilik toko buku tanpa peduli jenis kelaminnya (hiiii….hiiii).
Waktu saya kuliah di semarang (1995-1998) dan Jakarta (1998-2001), untuk memenuhi hasrat membaca, karena berasal dari keluarga bukan konglomerat, uang kiriman pas-pasan, saya betah berjam2 nongkrong di gramedia, membaca buku2 terbaru sampai tuntas. Biasanya untuk edisi terbaru kebanyakan buku sudah di segel tetapi kadang di sediakan 1 buku yang sudah diperawani untuk dijadikan referensi, nah buku itulah yang selalu saya incar untuk dibaca.
Pernah suatu ketika, karena hasrat membaca sudah tak terbendung lagi, pagi-pagi ( pukul 9.30, saya sudah ada di gramedia, kebetulan saat itu ada buku terbitan baru tentang Bung Karno, karena bernasib mujur, salah satu bukunya tidak di segel. Alhamdulillah, buku setebal 200 halaman (kalo gak benar) saya baca dengan tuntas sampai sore. Ketika saya membaca, banyak orang-orang hilir mudik disekitar saya, dan saya yakin mereka ingin juga membaca buku tersebut, tapi masa bodohlah siapa suruh datang telat🙂
Sekarang, saat saya sudah menjadi abdi negara (istilah keren untuk guru seperti saya) nongkrong berjam2 masih saya lakoni, tapi sekarang bedanya dari hasil gaji pegawai rendahan, saya sudah mampu membeli 1 ato 2 buku untuk oleh2.
Ada yang tetap menjadi catatan dalam hidup saya, bahwa bangsa ini belom mampu memberikan buku yang berkualitas dengan harga yang murah untuk rakyatnya.

2 responses to this post.

  1. Posted by Black_Claw on September 1, 2008 at 5:15 pm

    wah, ada yang mo pacaran tanpa perduli jenis kelamin! HOMOK!

    Reply

  2. Posted by olanuxer on September 1, 2008 at 8:44 pm

    @black claw
    ini gara-gara baca ayat-ayat homok dari ente hi..hi….hi..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: