RELIGIUITAS DALAM PUISI, DARI BERBAGAI PENYAIR YANG DI TULIS ULANG OLEH aku, HAMBA ALLAH YANG BADUNG


WALAU
(sutardji calzoum Bachri, O Amuk Kapak, 2003)

walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah

dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak

kalau mati
mungkin mati bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak

tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu

walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sampai sebatas allah

sengaja saya tuliskan sebuah puisi dari om Tardji sebagai prelude, Puisi yang sampai sekarang sangat saya kagumi, kalau di lihat dari fisik sang penyair sungguh tidak akan menyangka orang seperti beliau bisa membuat puisi. tongkrongan sangar, Rambut GOndrong (mungkin sekarang dah di potong),urakan, Kumis dan janggut dibiarkan merdeka.
sebuah puisi yang mengingatkan kepada kita supaya tidak perlu tinggi hati atau menyombongkan diri, meskipun memiliki jabatan sosial segudang. Kita akan selalu kecil dihadapan Allah. perhatikan bait pertama /walau penyair besar/takkan sampai sebatas allah. Kata penyair di sini hanyalah perwakilan sebuah profesi, sesuai dengan profesi yang digeluti oleh om Tardji sebagai presiden penyair indonesia.
sungguh luar biasa puisi ini, karena dibuat oleh penyair yang nyaris tidak bertuhan pada awalnya, tetapi lewat bait-bait puisi terus menerus mengembara mencari di mana sang pencipta berada, kerinduan yang tak pernah padam.

sebagus-bagusnya puisi yang di buat oleh manusia tidak akan mampu menandingi keindahan puisi (alquran) yang di karang oleh Allah. Eksplorasi huruf-huruf menjadi kata, menjadi kalimat, menjadi sebuah puisi, menjadi sebuah buku pada akhirnya akan menemui kekosongan makna /walau huruf habislah sudah/alifbataku belum sampai sebatas allah.
Saya mengutip pernyataan beliau yang saya ambil di sini :

“Tak ada yang perlu dipersoalkan, apakah kau menobatkan dirimu sendiri sebagai presiden penyair. Atau, rajanya pedangdut. Atau, dewanya musik pop. Atau, guru besarnya sastra. Percayalah di balik semua singgasanamu tiada ada apa di sana. Karna kata memang tak perlu terbebani makna. Karna sekembalinya kau dari sana, kau tak lebih dari sebelumnya; orang biasa yang menjalani hidup biasa di hari-hari biasa dengan kebiasaanmu yang biasa.”

Tidak hanya om tardji yang melakukan pencarian terhadap makna tuhan, Acep Zamzam Noor, penyair kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, dalam puisinya yang berjudul sendiri juga mengeksplorasi sampai ke titik nadir. Proses persetubuhan dengan “bayangan” tuhan terasa sangat nikmat. Tetapi walaupun sudah sedemikian jauh proses mendekatkan diri pada Tuhan, masih saja belum mampu menghadirkan sosok Tuhan dalam artian yang sebenarnya, yaitu Tuhan yang sangat dekat melebihi nadi yang ada di tubuh kita sendiri.

SENDIRI

Pada hamparan waktu memancar airmataku
Kuperas dari kepedihan rindu dan gairah cinta
Ibadahku tak terungkapkan lagu, juga kata-kata
Seribu sajadah yang kusambung-sambung tak juga sampai
Padamu. Di kekosongan aku mabuk dan meronta-ronta
Membakar seluruh pakaian dan keyakinan

Puisi lain yang selalu membuat hati saya sangat bergetar saat membacanya, sangat mewakili pribadi saya karena memang mewakili perilaku saya (kalo boleh saya menyebutnya puisi yang gue bangat), di bawah ini:

LALU KUDENGAR SUARA ITU
(Saini KM, Nyanyian Tanah Air, 2000)

Tuhan, betapa besar kepercayaanMu kepadaku.
Hamburan tanya, keraguan, keluh dan gerutu,
Kau kembalikan dengan bahasaMu itu. BahasaMu itu.

Sesaat pun tak kau tergoda ‘tuk membuat mukjizat,
ketika kuserbu Kau dengan prahara hujat.
Saat siap kusulut api neraka dan kuludahi altarMu
Kau begitu bersahaja, sabar mengajariku mengeja

makna kebisuanMu, mengajarku tegak sendiri
berpegang-tangan dengan sesama insani
lalu kudengar suara itu! Lalu sepiMu fasih bicara!
Tuhan, betapa teguh imanMu padaku selama ini.

Sebuah puisi yang memiliki makna religi yang sangat dalam, puisi yang “nakal” memporakporandakan asumsi yang selama ini dibangun dalam pemaknaan Tuhan. Dalam puisi ini oleh Saini KM, sengaja dibuat melanggar kaidah, tapi di sinilah kekuatan sebuah puisi di atas.
Tuhan dilambangkan memiliki sifat2 manusia dalam ketuhanan, memiliki kepercayaan, memiliki iman.
Tuhan dengan sangat sabar mengajari, meskipun umatnya (dalam hal ini saya termasuk di dalamnya) banyak yang gak peduli dan tetap melanggar apa yang telah dilarang.

Ada lagi puisi badung yang sangat saya senangi untuk membacanya,


DI PADANG ARAFAH

(Saini KM, Nyanyian Tanah Air, 2000)

Pertemuan antara kita, Tuhanku, tak pernah resmi.
Pertengkaran paling sengit dan rujuk paling mesra
Biasanya terjadi di atas sajadah batu
Di pinggir kali kecil tempat Kauterima
Kunjungan gembala dan penjaja keliling
Di senja syahdu, saat penyeru-penyeruMu berhenti.

Jalanku ke rumahMu hanyalah jalan setapak
Yang kurintis sendiri dalam sepi.
Dan ruangMu kumasuki lewat pintu samping
Bukan gerbang raya tempat para jemaah
Berdesak agar dapat menghadap di saf pertama.
Hubungan antara kita, tak pernah resmi.

Kini malam telah tiba di padang Arafah
dan di atas sajadah bumi, bawah mihrab langitMu
Dengan segenap ketulusaan kuserahkan
Kegelisahan, pemberontakan dan kerinduanku.

Meskipun Allah sudah mewajibkan kepada setiap hambanya untuk sholat wajib 5 waktu, sehingga tanpa disadari jadwal yang telah ditentukan untuk sujud menjadi kegiatan yang sangat resmi, tetapi kenyataannya masih saja belum bisa dilaksanakan dengan sempurna. Saini KM lagi-lagi dengan sangat cerdas menggambarkannya dalam satu larik pada bait pertama, /Pertemuan antara kita. Tuhanku, tak pernah resmi.
Pada bait ke dua, ada 2 kesan yang saya tangkap
pertama, karena tidak konsisten dalam beribadah, aku larik dihinggapi rasa malu dan memilih jalan sendiri untuk bertemu Allah.
Tetapi juga bisa berarti keinginan untuk tidak mengeksploitasi ibadah sehingga tidak memunculkan rasa riya’ di dalam hati. Ibadah dalam pandangan Aku larik adalah suatu yang sunyi, sesuatu yang sepi yang bersifat sangat pribadi, jadi meskipun dalam keseharian kita melaksanakan sholat berjamaah, tetapi sebenarnya hubungan yang dilakukan adalah percakapan personal atau individu antara hamba dengan sang pencipta.
Klimaks dari pada rukun islam adalah menunaikan ibadah haji, biasanya (menurut cerita orang2 termasuk bapak dan ibu saja yang telah melaksanakan ibadah ini) sebadung-badungnya orang, ketika beribadah haji, akan mengucur sendiri air matanya, merasa sangat dekat dengan Allah dan merasakan rindu yang sangat dalam untuk pergi ke sana lagi.
Aku larik pun merasakan demikian sehingga /dengan segenap ketulusan kuserahkan/kegelisahan, pemberontakan dan kerinduanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: