BlankOn Linux, Teamwork tanpa ketemu Muka

Saat ini, saat saya memposting tulisan ini, proses pengerjaan BlankOn Linux 4 yaitu linux racikan anak-anak bangsa, turunan Ubuntu dengan kode rilis Meuligoe (bahasa aceh yang berarti mahligai, tetapi untuk lebih jelasnya tentang apa itu Meuligoe bisa di baca di sini.), sedang di genjot terus, rencana rilisnya pada tanggal 13 November 2008.
Ada sesuatu yang menarik saat saya mencoba masuk lebih dalam di komunitas BlankOn yaitu menjadi anggota tester gadungan hiii.hi…(sebelumnya saya cuma pasif saja menjadi anggota), saya merasakan semangat kebersamaan, persaudaraan, teamwork. Tapi tau gak? kalo para pengembangnya sudah bekerja sungguh-sungguh tidak mendapatkan apa-apa? maksud apa-apa di sini adalah sesuatu yang berbentuk materi yang sesuai dengan pekerjaan dan ilmu yang mereka miliki?.

Stop dulu tentang Meuligoe, saya ingin flash back mereview perkenalan saya dengan BlankOn. Tahun 2005 saya mendapatkan tugas sekolah untuk pelatihan ke Semarang, ini adalah kesempatan untuk hunting buku tentang linux dan buku puisi. Jalan-jalanlah saya ke toko buku yang berada dekat dengan tempat pelatihan di PIP (Politeknik Ilmu Pelayaran) Semarang. Banyak buku yang sangat menarik dan membuat takjub ada buku tentang linux yang berjudul “Menggunakan LInux BlankOn 1.0″yang di karang oleh Pak Rusmanto (Bapak Linux Indonesia) dan kawan-kawan. Lebih jauh tentang pak Rusmanto bisa di baca di sini. Setelah membeli saya transfer isi buku tersebut ke dalam otak yang suka ngeres ini sehingga nanti kalo sudah kembali ke alam sana (maksudnya BIma) saya akan mencobanya. oh ya untuk versi 1.0 menggunakan distro fedora core sebagai Bapaknya.

Setiap saya membaca buku tentang linux, selalu ditekankan bahwa linux adalah Sistim Operasi berbasis komunitas, dikembangkan oleh komunitas, troubleshooting oleh komunitas. Terus terang ini sangat menjengkelkan, karena saya tinggal di pedalam BIma yang gak ada koneksi internetnya pada waktu itu. jadi kalo ada masalah tentang linux saya cuma menelan ludah.
setelah mencoba versi 1.0 saya merasa kurang sreg menggunakannya, kemudian balik lagi menggunakan Linux mandrake. sampai di sini putus hubungan saya dengan BlankOn.
BlankOn versi 1.0 yang berbasis fedora core sekarat, kemudian oleh Pak Rus dilemparkan ke komunitas Ubuntu Indonesia untuk dihidupkan kembali. Respon yang didapatkan sangat cepat, akhirnya BlankOn memiliki orang tua baru.

Saya memang telah mengakhiri hubungan cinta dengan BlankOn, sampai pada suatu saat saya berkenalan dengan Black Claw. Dia memprovokatori saya menggunakan BlankOn lagi. Tetapi pada waktu itu saya tidak terlalu menggubrisnya karena asyik setengah mati menelanjangi linux Mandrake/Mandriva. Walaupun gak terlalu merespon, eh tetap nyangkut aja di kepala nama BlankOn.
Untuk referensi, salah satu kegemaran saya adalah mendonlot file *.iso linux, tak terkecuali BlankOn. Meskipun dalam kenyataannya semua linux itu sama, tetapi saya pikir ada special taste dari masing-masing pembuat distro, yang membuat distro tersebut itu unggul.
Di SMKN 1 Bima, komputer 40 buah menjadi tempat uji coba penginstalan linux untuk setiap distro. Mulai dari ubuntu, mandriva, zenwalk, PClinuxOS, opensuse, dan BlankOn.
Saat saya menginstal BlankOn muncul kembali getar-getar cinta yang pernah ada, kemajuan yang luar biasa dalam segala hal saya temukan dalam menggunakannya. Kemudian saya merenung kembali tentang pernyataan black claw, sampai pada akhrinya saya menginstaltunggalkan BlankOn di komputer kerja saya, di ruangan server ICT.

Kembali ke masalah komunitas. Sangat sulit memang untuk memisahkan linux dengan komunitasnya, termasuk BlankOn. Setelah menggunakannya, saya gabung ke milis dan banyak belajar di situ. Pada awalnya saya hanya jadi tukang baca, artinya apa yang di posting ya saya baca. Kemudian berpikir untuk menyumbangkan waktu luang membantu team dalam mengembangkan BlankOn.
Sungguh luar biasa, masing-masing anggota bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian pada bidang yang dimilikinya. untuk menjadi anggota team tidak harus seorang programer, ada banyak cara berkontribusi di situ, yang jago bahasa inggris bisa menjadi anggota team dokumentasi kerjaannya translate english to indonesia semua dokumentasi, yang jago gambar punya jiwa seni (seniman) bisa menjadi team kesenian (salah satu yang membuat saya bangga menggunakan BlankOn karena ada sahabat saya black claw yang dari Dompu menjadi team kesenian, ada beberapa thema Dompu/Bima dan Bahasa Bima yang dia masukin ke dalam BlankOn), yang punya bandwith lebih bisa donlot file *.iso-nya kemudian di test, lalu melaporkan tentang kekurangan-kekurangan saat menginstalasi atau mencoba BlankOn.
Yang membuat takjub lagi, team bekerja tanpa pernah bertemu muka bahkan mungkin secara pribadi lom saling mengenal, kalaupun ketemu paling di acara-acara tertentu yang membahas tentang linux.Ya internet dan hobylah yang menyatukannya.
Anggota team tersebar di seluruh daerah di Indonesia bahkan di Luar Negeri, bayangkan!!!
ok saya coba sebutin deh satu-satu, Black Claw ada di Dompu NTB (kota yang di google earth pun tidak teridentifikasi), Budi Baliwae di Bali, Ainul hakim di Semarang (jateng), MDAMT di Finlandia, Fajran Iman Rosadi (iang) yang saat ini sedang menuntut ilmu di Universiteit Van Amsterdam Belanda, Mahyuddin Susanto (udienz) di Jember (Jatim), Muhammad Takdir di Makassar, dan masih banyak lagi. untuk lebih lengkapnya bisa di lihat di sini.
Milis dan Irc (tempat chatting) yang menyatukan team BlankOn dalam membahas tentang masalah-masalah yang di hadapi. cara kerja yang unik menurut saya yang belum pernah saya lakoni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: