Lalu kita sadari, puisi adalah dunia yang sunyi

Ini puisiku
Tempat darah dan air mata mengalir, laut yang bergolak
Di sini kau baca zaman yang terlindas
Lihatlah aku sedang bertapa di dalamnya
Duduk dibelukar aksara, memamah warna-warna alam

Puisimu yang tercecer pada rak sejarah
Mendekap sunyi dari keterasingan kata
Tetapi tetap saja kau menulis
Sepertinya kau temukan kesucian di situ

Kita dipertemukan oleh puisi di tempat ini
Aku dan kamu saling membaca
Lalu kita sadari, puisi adalah dunia yang sunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: