Iwan Fals, Nabiku

Tidak ada yang sanggup mengalahkan Iwan Fals dalam hatiku. Sejak duduk di Sekolah Dasar, sampai hari ini, dimana kepalaku sudah ditumbuhi rambut yang memutih dan siap dipanen. Tidak pernah bergeser apalagi berubah posisi. Tetapi jangan tanya di mana dia berada di dalam hatiku, sebab aku melindunginya, kutempatkan di tempat yang sunyi, yang hanya bisa dijangkau dengan mata hati yang jernih. Engkau yang memiliki perasaan yang sepi, akan bisa melihat dia sedang merenung dan memandangi negeri ini, sambil mengusap air mata. Coretannya di dinding hatiku, sudah penuh sesak dengan bahasa-bahasa yang sederhana, kadang dengan kegeraman yang tersembunyi mencaci korupsi, kesewenangan, ketidakadilan. Sering aku merasa tak mengerti dengan apa yang ada, katamu sambil membetulkan posisi gitar, duduk bersila dan bersandar pada dinding hatiku yang terbakar saat engkau memahat api, tetapi juga akan sangat sejuk saat cinta dituliskan olehmu dengan huruf kapital.
Begitu banyak yang terjadi, dari pencekalan, rambut di gunduli terus dipanjangi, brewok dan awut-awutan, seperti orang gila, bentuk ekspresi dengan makna yang dalam. Swami, Kantata Takwa, Dalbo, Kantata Samsara, begitu banyak yang tak kupahami.Ada apa gerangan?

Zaman bergerak mendewasakan, menuntun perlahan untuk dapat mengerti,tetapi bukan untuk berkompromi. Siapa yang sanggup menghentikan waktu? Dia sudah semakin tua, bijaksana, rambut memutih, saksi bisu sejarah yang berlalu. Ternyata hanya bahasa cinta yang bisa merangkum dan mendamaikan semuanya. Bergolak dengan bahasa cinta, kritik dengan bahasa cinta, nyanyian cinta dengan bahasa cinta.
3 September 1961, aku belum ada, tentunya aku masih berbentuk ruh saat dia dilahirkan. tumbuh besar dan mengamen memetik gitar di jalanan kota Bandung. Hanya gitar..ya hanya gitar yang terpatri untuk selalu dimainkan. tidak mungkin mengamen membawa piano, dan segala macam instrumen-instrumen lainnya. Memang hanya gitar, mudah didapat dan dibeli bahkan untuk orang kere.
Dia dibesarkan oleh debu, matahari menjadi saksi dan hanya bayangan yang setia mengikuti. Dia menulis lirik dari keringat, pada tanah yang kering. Lalu kita semua membaca, menganalisa, kemudian mencoba untuk memahami rentetan kalimat-kalimat yang telah dibuat. Bagi wartawan ini menjadi berita menarik, setelah itu, pada halaman depan yang bisa kita sebut sampul tertulis “Asian Heroes”,itu baru satu, aku jamin masih ada lagi yang telah dan akan menulis tentang dia.
Aku pernah menolak menjadi guru, jiwa berontak, tetapi kamu menyadarkan aku lewat lagu “Untuk Para Pengabdi”, yang aku dengarkan hampir tiap menit, kuputar ulang, lalu aku tunduk, patuh dan menyelami makna menjadi guru, kemudian aku sadar inilah yang terbaik. Kesetiaan Masih Ada, Setidaknya Menjadi Cita Cita, itu Sebabnya aku Disini Menemanimu.
Kamu menyapa aku lagi, kembali menuliskan di dinding hati ini, meski kamu mengerti, sudah sedikit ruang yang tersisa. Hanya sejenak, coretan itu telah aku baca, tetapi Haruskah Pergi??
Sering aku merasa, Tak mengerti dengan apa yang ada, Melihat dari kegelapan, Mencoba mengurai makna
Begitu banyak yang terjadi, Begitu banyak yang tak kupahami, Orang saling membenci Membunuh dan melukai.
Perang masih terjadi, Bencana bertubi tubi, Kerinduan tercampak, Kesepian merajai.
Aku ingin pergi, Meninggalkan ini semua, Menemani senja, Yang sedang berduka.
Aku harus pergi, Meninggalkan semua ini, Menemui kamu, Yang mengajak bercinta
Air mata nyaris jatuh, Di pelataran rumah yang teduh, Ayat-MU terkapar, Di lemari lemari berdebu.
Ada apa gerangan, Mengapa mesti tergesa gesa, Tak bisakah tenang, Menikmati bulan penuh dan bintang.
Lalu mengarungi waktu, Dengan lapar yang menyakitkan, Menyikapi semua, Dengan kesabaran
Aku ingin pergi, Meninggalkan ini semua, Menemani senja, Yang sedang berduka
Aku harus pergi, Meninggalkan semua ini, Menemui kamu, Yang mengajak bercinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: