Cerita Tentang Sebatang Pohon Di Sekolahku

Kamu masih kecil, masih belum kuat untuk berdiri sendiri, maka kami menemani. Tentu engkau merasakan pahitnya hidup di tempat seperti ini. Terik matahari, tanah yang bercampur garam, tentu bukan awal tempat untuk hidup yang baik.
Tapi kami sudah menentukan nasibmu. Pada awalnya engkau memang tidak di sekolah*) ini, berada disuatu tempat yang teduh dan nyaman penuh humus dimana bundamu menimang di bawah rindang daunnya untuk mencoba mengajari engkau tumbuh. Kami memang memisahkanmu, sejak engkau masih dilindungi oleh keras kulit luar bijimu. Engkau kami pilih, karena kami percaya engkau mampu menyejukkan sekolah kami yang gersang, jadi mohon jangan menyalahkan kami.

Di tempat ini, tempat engkau menancapkan akarmu yang masih lemah, mencoba menerobos tanah padat yang penuh dengan batu. Engkau berusaha bangkit dan tumbuh. Tidak seperti saudaramu yang lain, mereka kini sudah kuat dan kokoh. Engkau masih berjuang di bawah sengatan matahari yang menantangmu untuk tetap bertahan.

Kami hanya ingin membuat sekolah ini sedikit berwarna, tidak hanya coklat sebagaimana warna terjemahan dari kering dan gersang, tentu akan lebih indah jika warna hijau juga memantul di pupil mata kami, ini akan menjadi perpaduan warna yang sangat indah.
Setelah menanammu di sini, sejuta doa kami panjatkan, kami tidak ingin engkau menjadi tumbal lagi, kami ingin kamu hidup, tunjukkan tunas-tunas barumu.
Takkan kami biarkan engkau sendiri. Pagar bambu sudah kami selimuti, untuk melindungi dari panasnya liur kambing yang terpesona melihat daun hijaumu. Meski tidak setiap hari, kami beri air pelepas dahaga, untuk membasahi akar-akar yang menopang badanmu. Kita semua melakukan itu, karena kita peduli, menjaga bumi meski hanya dengan sebatang pohon

Kami menyukai bentuk daun yang sengaja engkau pamerkan saat kami menjengukmu, memberi kesan sejuk. Suatu saat, jika kamu mampu tumbuh besar, Semua orang yang berteduh pasti akan lupa waktu karena keasyikkan bercengkerama di bawah naungan daunmu.
Alangkah senangnya nanti, kami akan betah berlama-lama mengagumi daunmu, tidak hanya aku. burung-burung yang terusir, yang saat ini entah kemana, akan kembali ingat dimana dia dilahirkan.
Semua ingin menikmati, tapi bukan hari ini, pada hari yang lain pada masa yang akan datang. Semoga cepat tumbuh dan merindangi.

keterangan :

*) Sekolah yang saya maksudkan adalah SMKN 1 Bima berada di atas tanah bekas tambak, terletak di Kecamatan Lambu Kab. Bima NTB, saat ini sekolah masih dalam keadaan gersang, berbagai cara kami lakukan agar pohon yang kami tanam bisa hidup, tetapi perjuangan nampaknya tidaklah selalu mulus. Banyak pohon yang mati setelah akarnya menyentuh tanah bergaram. Saat ini kami tetap mencoba menanam pohon apa saja yang penting bisa membuat sekolah kami hijau dan sejuk. Pohon ketapang pada gambar di atas, salah satu yang mampu bertahan hidup sampai saat ini, sehingga saya angkat menjadi cerita. We Care Kita peduli dengan lingkungan.
(Postingan untuk mengikuti Blog Competition STOS ” We Care Kita Peduli”)

2 responses to this post.

  1. Posted by Alat Sadap on December 23, 2009 at 5:28 am

    halo salam kenal..blognya bagus banget.kalo berkenan boleh tukeran link ya..Download Film

    Reply

  2. Oh, Lambu? Ya aya, disana kering…Salam kenal pak ^^" http://ismarmiaty.blogspot.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: