Refleksi Akhir Tahun 2009

Setiap pergantian tahun, pergantian musim, pergantian hari, tanggal, jam dan detik akan lewat begitu saja jika kita tidak memaknainya. Pergantian tersebut secara tidak sadar telah mengambil perlahan sisa umur dan kesehatan. Saya pernah punya pengalaman yang tidak terlupakan tentang itu.

Suatu saat saya terlibat percakapan dengan seorang tua, yang sama-sama menumpang kapal fery tujuan Mataram. Saat itu,saya dikejutkan ketika beliau menyapa dan langsung bertanya tentang kematian kepada saya.
“Dik, Apakah kematian datang dengan tiba-tiba?”. Kata beliau menyambung pembicaraan setelah berkenalan dengan tidak resmi. Saya terperanjat, pertanyaan yang tidak terduga, sangat dalam. Apalagi kepada saya yang tidak pernah berpikir tentang kematian. Sesaat saya terdiam, mencari jawaban. Otak saya bekerja lebih untuk mencari jawaban itu.
“Iya…” jawab saya, ragu-ragu sambil menatap mata beliau.
“Dik, Kematian itu datang perlahan. Sangat perlahan bahkan sampai kita tidak sadar bahwa setiap hari sebenarnya kita sedang menjalani proses kematian”. Kata beliau sambil memandang gulungan ombak selat Alas Sumbawa.

Kembali otak saya bekerja keras mencari makna jawaban itu. Beliau tidak langsung menyambung makna dari kalimat yang telah keluar dari bibirnya. Beliau biarkan beberapa saat, memberi jeda. Mungkin sekedar memberi ruang kepada saya untuk menemukan makna kalimat tersebut.

Mulut saya terbungkam. Sayapun juga akhirnya memandangi ombak, berharap ada inspirasi untuk sekedar menyambung pembicaraan yang terputus.

Saya melihat jam tangan, memperhatikan jarum detik yang berputar. 30 detik…..40 detik…50 detik….53 detik…..
“Dik, pernah tidak kamu perhatikan diri kamu, orang-orang tua disekelilingmu?” kata beliau memecahkan bising suara mesin kapal yang dari tadi mendominasi.
“Pernah” jawab saya dengan cepat.

Beliau melanjutkan
“Kamu sekarang masih muda, masih kuat dan segar, semua anugerah yang ada pada tubuhmu masih berfungsi dengan normal. Tapi Dik, Allah akan menarik semua yang kamu miliki sekarang dengan perlahan. Sedikit demi sedikit semua fungsi yang tadinya sempurna akan dikurangi. Mata yang kamu miliki sekarang akan rabun, telinga tidak tajam lagi untuk mendengar, dan mungkin perlu alat bantu. Gigi menjadi ompong, tubuhmu akan perlu tongkat untuk berjalan. Bahkan mungkin perlu dibopong untuk berpindah tempat. Itulah proses kematian itu. Kita semuanya, suka atau tidak suka akan menerima dan itulah kematian secara perlahan. Itulah proses kematian yang sebenarnya, seandainya kita semua mau memahami”.
Kembali saya tertegun. Makna itu akhirnya tersingkap, saya termasuk orang yang tidak mau memahami proses kematian yang perlahan itu. Pelajaran sangat berharga tentang kematian yang tidak pernah saya dapatkan kecuali pada hari itu, dimana dengan izin Allah kami dipertemukan di atas kapal, di tengah laut dengan deburan ombaknya, suara camar dan bising mesin serta celoteh-celoteh penumpang lain yang mencoba membunuh rasa bosan diperjalanan.

Sampai hari ini, percakapan itu masih terus membayangi. Seakan sudah terpahat pada otak saya, padahal saya sangat pelupa. Bahkan pada saat-saat tertentu, percakapan itu sering muncul, masih terngiang-ngiang. Sosok Orang tua yang sangat bersahaja yang mampu memberi ilmu yang sangat berharga.
Tulisan ini sengaja saya posting untuk mengkoreksi diri sendiri, dan jika anda yang membaca turut mengambil maknanya, maka itulah gunanya berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: