Dana Bantuan dan Ambisi Untuk Memimpin

Begitu banyak bantuan yang diberikan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah untuk peningkatan mutu di setiap sekolah, tidak terkecuali di Kabupaten Bima, terlebih di wilayah Kecamatan Sape dan Lambu tempat saya tinggal dan mengabdi. Apalagi dana untuk pendidikan di pusat sudah mencapai 20 persen dari APBN, dimana biaya tersebut tidak hanya untuk membangun sarana fisik pendidikan, tetapi juga untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan.

Untuk mendapatkan dana, para Kepala Sekolah berlomba-lomba membuat proposal dan mengajukannya ke instansi-instansi terkait. Jika disetujui, maka uang puluhan sampai ratusan juta akan dikucurkan. Tidak hanya bantuan dana, bantuan peralatan pun akan langsung diberikan, asal rajin-rajin mengintip dan mencari sumber-sumber bantuan, baik melalui internet maupun bertanya langsung kepada pejabat yang terkait.

Mungkin hal inilah yang menyebabkan banyak guru berlomba-lomba untuk menjadi kepala sekolah. Tidak peduli berbagai macam cara dilakukan. Saya mendengar desas desus, banyak calon-calon kepala sekolah yang menyogok dan menjilat untuk mendapatkan jabatan tersebut. Tak heran saat mereka menjabat, maka orientasi mereka tidak lagi bagaimana menyumbangkan dedikasi yang terbaik untuk dunia pendidikan, tetapi sudah berorientasi pada materi.

Jika dilihat dari sisi kerja, sebenarnya banyak guru yang akan menolak untuk menjadi kepala sekolah. Ngeri…Kerjaanya banyak dan sangat berat, padahal tunjangan jabatan tersebut tidaklah terlalu besar. Apalagi kalau untuk mendapatkannya, seseorang harus melakukan cara-cara yang tidak benar seperti yang saya tulis di atas.
Jika orang waras yang menjadi kepala sekolah harusnya jabatan itu menjadi panggilan tugas, pengejewantahan dari rasa tanggung jawab dan pengabdian, jabatan yang sangat strategis untuk mewujudkan ide-ide demi kemajuan dunia pendidikan pada sekolah yang dipimpinnya.

Tetapi hanya sedikit yang seperti, kebanyakannya adalah untuk memperkaya diri, menaikkan status sosial biar lebih berwibawa di mata masyarakat.
Maka tak heran, jika pendidikan di Kabupaten Bima sangat memprihatinkan dari segi kualitas. Hal Akan terasa jika siswa/i dari daerah ini melanjutkan kuliah, akan kalah bersaing dengan rekan-rekannya terutama di daerah Jawa. Meskipun ada beberapa yang sangat unggul dan menjadi jawara, tetapi itu hanya sebagian kecil dan tidak mencerminkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Pemerintah begitu baik dengan memberikan dana yang cukup untuk kemajuan sekolah, maka hendaknya bantuan tersebut dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Sudah saatnya para Kepala Sekolah menggunakan kaca mata hitam biar matanya normal dan tidak hijau melihat uang.
Ajari kami yang masih muda, bagaimana cara menjadi pemimpin, bagaimana cara mengabdi dengan baik, jiwa dan raga diberikan pada dunia pendidikan. Bukan mengajari kami, bagaimana melipat uang bantuan dan masuk kantong untuk keperluan pribadi.

sumber gambar di sini

5 responses to this post.

  1. >syukurlah pak dapet bantuan! saya denger juga ntuh fiber optik lewat bima juga……jadi akses internet bakalan kenceng di bima😀

    Reply

  2. >Selalu ada jalan di tengah kesulitan, selalu ada ruang untuk bergerak dengan santun. Saya senang membaca artikel ini, dan saya tahu, Bima sangat beruntung memiliki putra-putra yang mencintainya dan pantang berputus asa. Kesulitan adalah peluang, kita yang akan menjawabnya!

    Reply

  3. >Inilah suara hati dari seorang guru yang ingin menjadi orang benar dengan pemimpin yang benar pula, terasa sulit memang mengharapkan sesuatu yang ideal terjadi di lingkungan sekitar kita, kadang kitapun tidak berdaya menghadapinya.Bantuan yang banyak tidak akan berarti apa-apa tanpa kejujuran dalam mengelolanya.Tetap semangat Pak Guru….

    Reply

  4. >dunia sungguh kejam….menyisakan sedikit saja kejujuran dan niat baik. pendidikan bukan jalur politik. kalau kepsek dinilai dari sisi politis tunggu saja kehancuran itu. hanya satu cara bijak yaitu bebaskan sekolah (kepsek) dari aktifitas politik tersembunyi. nilai dan angkatlah mereka dari catatan prestasi dan kepemimpinannya. bukan balas budi dukungan pemenangan pilkada. profesionalisme adalah syarat mutlak penilaian. sudahi saja pola rekruitmen yang "aneh-aneh".

    Reply

  5. >saya berpikir lebih baik untuk pendidikan dikembalikan ke pusat saja untuk pengelolaannya, biar pendidikan tidak dipolitisir. Seperti Depag lah kan bagus tuh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: