Shock Culture

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jawa, tepatnya di Semarang Jateng, saya mengalami shock culture. Banyak perbedaan yang saya rasakan hidup di kota besar ini, mulai dari bahasa, gaya hidup, cara bergaul dan lain sebagainya. Mempelajari bahasa menurut saya yang paling sulit, karena ternyata bahasa di Jawa memiliki banyak tingkatan. Kalau masih diseputaran Semarang, gak masalah, setelah lama bergaul akhirnya bisa juga, tetapi kalau sudah menuju daerah-daerah lain seperti Solo atau Purwodadi, yang bahasanya menggunakan Jawa halus, saya angkat tangan dan kaki, Orak mudeng blas!.

Setelah tamat kuliah di Semarang, saya melanjutkan study lagi di Jakarta. Kembali saya mengalami shock culture. Cuma sedikit menyesuaikan bahasa, karena bahasa sehari2 menggunakan Bahasa Indonesia campur Betawi. Shock yang paling besar adalah mengenai gaya hidup, gaya berpakaian dan bergaul. Gaya berpakaian yang kebanyakan bolong terutama dari wanita membuat saya yang orang kampung dan belum pernah melihat seperti itu menjadi bengong dan takjub. Takjub karena pameran yang asyik-asyik bisa dinikmati tanpa membayar🙂, mungkin inilah yang mengawali saya menyukai sesuatu yang gratis. Sampai akhirnya saya menyukai linux yang gratis. Agama saya mengajarkan untuk menjaga pandangan, jika melihat sesuatu yang tidak pantas, menunduk saja. Tapi itu tidak bisa terjadi, karena kalau jalan di mall, menunduk jika berada di lantai dua ke atas berarti sama saja dengan sengaja melihat cewek-cewek yang lalulalang dengan belahan baju dada rendah, nah lo!

Tujuh tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2002, Saya kembali pulang ke tanah air, maksud saya pulang kampung, setelah 3 tahun menimba ilmu di Kota Semarang Jateng dan menambah ilmu lagi di Kota Jakarta lebih kurang 2,5 tahun. Jadi total jenderal saya meninggalkan tanah air adalah 6 tahun. Saya tidak pernah pulang saat liburan, dan lebih memilih untuk keliling tanah Jawa dan Sulawesi untuk mengisi waktu tersebut.

Dalam kurun waktu itu, tentu banyak pengalaman yang saya dapatkan, dari yang asyik sampai yang menyakitkan.Dari yang baik sampai yang buruk. Akan menjadi setory yang tidak akan pernah saya lupakan.
Setelah kembali, saya juga mengalami shock culture, biasa hidup dengan segala macam dinamika, biasa hidup dan melihat-lihat pameran kutang dan celana dalam dengan bebas, pada awal kedatangan, saya tidak bisa melihat itu semua, karena di Bima, wanita yang menggunakan jilbab merupakan pemandangan yang umum, mulai dari anak2 tingkat sekolah dasar sampai mahasiswa/i perguruan tinggi, termasuk juga pekerja kantoran di berbagai instansi pemerintah.

Sekarang, hari ini, sebenarnya shock culture masih berlanjut, hal-hal yang tidak bisa saya lihat pada awal-awal kedatangan saya, sekarang sudah berubah. Gadis-gadis tidak lagi malu untuk menunjukkan kutang beserta isinya yang mengintip dan paha yang mulus, dikerumunan orang-orang. Harusnya saya sudah isded, karena kebanyakan shock, tetapi mungkin masih diberi kesempatan untuk menimati shock-shock yang lain.

4 responses to this post.

  1. >Pengalaman hidup dari jaman ke jaman….

    Reply

  2. >nimati bro….realitas jaman. hehe…

    Reply

  3. >he..he…realitas yang asyik mwakakakaka

    Reply

  4. >wah, shockx sering bgt. untunglah saya tdk shock dmana2. tp saya dah pengen bagt balik ke Mbojo. kangen berat!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: