Aku Belajar Untuk Tidak Mengenalmu

Aku belajar untuk tidak mengenalmu,
menghapus semua aksara yang pernah aku lontarkan, dari lidah dan bibirku
yang begitu fasih menyebut namamu, kemarin.

Aku belajar untuk memahami air mata
Menafsirkan gugurnya daun dan redup mentari.
Doa-doa melingkari sepi dengan luka
Pada trotoar yang pernah kita lewati saat gerimis

Aku pernah melayarkan perahuku mengarungi rambutmu,
Dengan kayuh dari kata-kata yang kumaknai sendiri.
Wajahmu, dengan susah payah kurangkai menjadi nafasku,
Aku leburkan kembali menjadi debu.
Aku belajar untuk tidak mengenalmu,
dengan air mata.

8 responses to this post.

  1. >Puisinya mantab coy…Perlu dicoba juga kalau melewati trotoar saat hujan lebat, mungkin bisa lebih tidak mengenalnya :))

    Reply

  2. >sptnya pernah baca puisi ini dhe. pernah dimuat di media cetak ya?

    Reply

  3. Posted by ordinareez on February 9, 2010 at 9:45 am

    >wah geek kita yang satu ini ternyata pujangga🙂

    Reply

  4. >mencoba memahami puisinya!*mikir!

    Reply

  5. >manis… saya suka🙂

    Reply

  6. >aih… kayaknya sakit banget neh perasaan baca nih puisi… semoga aja puisi ini cuma puisi, nggak betul-betul kejadian..

    Reply

  7. >Aku belajar untuk tidak mengenalmu,dengan air mata.keren sekali!

    Reply

  8. >Aku selalu kagum sama orang yang bisa bikin puisi. Soalnya, aku ga bisa bikin puisi. Ihiks…~.~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: