Dengan Sepeda Kami Melalui Negeri Ini

HandPhone saya bergetar diiringi suara Mbah Surip (alm) menyanyikan lagu “tak gendong”, yang saya gunakan sebagai nada dering. Nama Om Didi terpampang di layar HP saya. Tanda Accept saya tekan, seketika keluarlah suara Om Didi yang mengabarkan ada 2 orang pesepeda asal Belanda yang berjenis kelamin cewek yang datang berkunjung ke Sape, Bima. Bergegas saya datang ke rumah Om Didi dengan pakaian Bike to Work lengkap kebanggaan saya. Setelah ngobrol sebentar, kami berdua menuju hotel tempat ke dua cewek bule tersebut nginap.

Sambutan awal yang menyenangkan saya terima ketika berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Arween De Graf nama cewek bule tersebut, berumur 36 tahun merupakan seorang advokat/pengacara di negaranya sana, dan berniat menghabiskan uang yang didapat selama dia bekerja untuk bersenang-senang dengan melakukan traveling ke berbagai negara.
wuihhh..alangkah bedanya dengan banyak pekerja di Indonesia, yang menutupi kebutuhan sehari-hari harus tetap ngutang karena memiliki penghasilan yang sangat minim. Jadi untuk melakukan perjalanan seperti mereka adalah mimpi bagi sebagian besar penduduk Indonesia.

Beberapa saat kemudian, muncul gadis cantik bermata agak kebiru-biruan berkulit sangat putih menghampiri kami. Jolien namanya. Seorang mahasiswi, selengkapnya bisa dibaca pada blognya di sini. Bersama Arween melakukan traveling menggunakan sepeda untuk keliling Indonesia.
Percakapan bertambah seru, saling berbagi informasi, berbagi cerita tentang aktivitas sehari-hari, berbagi pengalaman dan lain sebagainya.

Pukul 12.00 Witeng, berempat mengendarai sepeda kami masing-masing, menuju ke salah satu resto yang ada di dekat pelabuhan Sape. Kami memesan makanan dan sayuran yang berbahan daun singkong. Sengaja kami memesan sayuran tersebut karena merupakan makanan favorit ke dua cewek bule tersebut.
Sambil menyantap makanan kami menyusun rencana untuk berkeliling di kampung-kampung kecil yang ada di Kecamatan Sape dan Lambu, untuk melihat lebih dekat kehidupan dan aktivitas masyarakat yang berada di dua kecamatan tersebut. Tak lupa kami menyusun rencana untuk bersepeda menuju pantai.😉

Jalan Turun Menuju Pantai

Selesai bersantap, istirahat sebentar untuk melanjutkan diskusi tentang rute yang akan ditempuh.
Sekitar Pukul 14 siang, kami mulai bersepeda dengan rute yang telah kami rencakan tadi. Cuaca cukup panas, matahari bersinar terik, tapi tidak menurunkan semangat saya dengan Om Didi untuk menjadi guide, memperkenalkan adat istiadat masyarakat Sape dan Lambu. Rute yang kami tempuh dari arah pelabuhan menuju arah utara, menyusuri jalan beraspal yang membelah sawah yang luas.
Sambil bersepeda dengan formasi 2 – 2 kami jalan beriringan, sambil bercerita tentang jenis-jenis tanaman yang ditanam masyakarat setempat, memperkenalkan kehidupan bercocok tanam para petani, melihat hasil panenan bawang, memperkenalkan daun singkong yang belum dipetik. Mereka agak surprise ketika melihat bentuk tanaman singkong, bahkan beberapa daun mereka bawa dan simpan untuk dijadikan kenang-kenangan. Ah, dasar bule…hal-hal seperti itu saja dijadikan suvenir🙂.

Perjalanan dilanjutkan menuju perkampungan penduduk. Desa Lanta Kecamatan Lambu yang kami pilih untuk berkunjung, karena di Desa tersebut banyak terdapat minuman khas dari pohon sejenis Palem yang dalam bahasa Bimanya biasa disebut Ta’a.
Istirahat di salah satu rumah penduduk, sambil menikmati minuman Oi Ta’a (minuman yang di ambil dari pohon sejenis palem) yang segar, membasahi kerongkongan kami yang kehausan karena lelah bersepeda.

Bule masuk kampung, begitulah yang terjadi. puluhan anak-anak kecil berkerumun ingin melihat langsung bagaiamana bentuk dan rupa cewek bule yang berkunjung ke kampung mereka, dengan mata berbinar dan keheranan mereka memperhatikan gerak-gerak tamu yang sangat asing dan belum pernah mereka temui
Arween Menikmati Oi Ta’a.

Jolien Menikmati Oi Ta’a

Tidak hanya anak kecil, para orang tua yang bertetanggaan dengan rumah tempat kami istrihatpun berdatangan. Celetukan-celetukan mereka dalam Bahasa Bima membuat saya tersenyum sekaligus miris. Mereka sangat ingin menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang yang sangat tinggi, biar seperti bule-bule itu, menikmati semua perjalanan ke semua tempat yang ingin dikunjungi. Memang memprihatinkan hidup di bawah garis kemiskinan.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Trip berikutnya menuju pantai. Trip ini yang paling sulit, karena harus melewati beberapa bukit yang lumayan menguras energi jika dilalui menggunakan sepeda. Kami terpaksa menuntun sepeda karena sudah tidak mampu lagi untuk mengendarainya. Capek??, pastilah. Tetapi karena tamu harus dihormati, rasa capek tersebut diusir jauh-jauh.
Setelah naik turun bukit, tibalah kami di pantai terdekat yang berada di Kecamatan Lambu. Penat yang menghimpit kami berempat seketika hilang ketika menikmati pemandangan pantai yang tenang. Suasana syahdu terasa karena sore menghadirkan matahari yang bersahabat, laut yang hangat. Kami menikmati suasana ini sangat lama. Berdiskusi dan bercanda, foto bersama dan minum Oi Ta’a itulah yang kami lakukan sambil duduk di pinggir pantai.
Pukul 19.30 witeng, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. karena ke empat sepeda tidak memiliki lampu penerang, terpaksa penerangan dilakukan ala kadar dengan menggunakan lampu senter yang terbundel langsung dengan handphone merek Nokia. Sambil menuntun sepeda, kami bernyanyi lagu dari Eric Clapton.
Banyak pelajaran yang saya petik dari bule cewek ini. Seperti bagaimana menjaga kebersihan. Om Didi pernah ditegur karena membuang botol minuman sembarangan. Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan bagi sebagian besar orang Indonesia. Bagaimana budaya Belanda, yang meskipun sudah dijajah selama 360 tahun, sumpah mati banyak generasi Indonesia yang tidak mengerti seperti apa budaya Belanda.

Om Didi, Jolien, Me and Arween

Ya, dengan sepeda kalian telah mengunjungi desa kami, biar kalian melihat seperti inilah kami, masih bergelut dengan kemiskinan dan penderitaan, melihat lebih dalam dan lebih ke dalam. ternyata kami belum bisa seperti kalian! Moga kami lebih cepat bangkit, dan untuk anda berdua selamat berkunjung ke Indonesia di bagian yang lain.
Sampai jumpa lagi.

7 responses to this post.

  1. hohooo… :)) just keep on biking everywhere coy… pasti bulenya kece donk… :))

    Reply

  2. Blog si mahasiswa pake bahas Belanda, binun euiy…

    Reply

  3. @ gaelby bulenya manis2@ rotyyu hee.h.e.e. saya juga terpaksa pakai google translate, meskipun bahasanya amburadul

    Reply

  4. salam sobatwah asyik sekali naik sepeda,jadi pingin ngikut.

    Reply

  5. @ Nura thanks dah berkunjung, beli sepeda terus kita jalan sama2. Tapi apa mungkin ya???🙂

    Reply

  6. ini toh yang di cerita'in ama Pak Didi,,,,,,hehehehehe……..

    Reply

  7. waaa pak didi ceritain di kelas juga ya???

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: