Revolusi Sepeda Sentuh Kalangan Atas

SEPEDA baru kini bermunculan dengan beragam bentuk dan fungsi. Fungsi sepeda kini dijabarkan secara rinci dan kemudian diikuti bentuk serta spesifikasi yang sesuai. Misalnya saja sepeda gunung, ada yang didesain khusus untuk turun gunung (down hill), untuk naik dan turun gunung, serta cross country. Model dan spesifikasinya pun berbeda-beda.

Di luar itu masih ada sepeda balap, sepeda untuk santai (touring), bahkan sepeda statis yang tak bergerak ke mana-mana mesti digenjot keras. Sepeda yang disebut terakhir ini khusus untuk olahraga di rumah. Harga sepeda sekarang juga beragam, mulai dari sekitar jutaan, belasan, hingga puluhan juta rupiah. Di pasaran bahkan ada sepeda seharga sekitar Rp 60 juta per unit.

Sepeda seperti halnya mobil. Industri sepeda juga mengeluarkan model-model baru dengan sentuhan inovasi-inovasi terkini sehingga nyaman dikendarai. Bahan kerangkanya tidak hanya terbuat dari besi atau campuran baja seperti zaman dulu. Sekarang kerangka sepeda berasal dari bahan-bahan yang eksotis, seperti titanium, aluminium, dan serat karbon. Beratnya lebih ringan, tetapi lebih kuat dibandingkan dengan sepeda-sepeda dulu.

“Sekarang ini ada sepeda yang harganya mencapai Rp 60 juta,” kata Doni Projokusumo, penggiat Indonesia Mountain Biking Community (MTB Indonesia) yang berbincang-bincang dengan Kompas di Jakarta Jumat, 3 Juni lalu. Sepeda mahal itu menggunakan kerangka terbuat dari karbon fiber. Beratnya pasti ringan, sekitar 10 kg. Bisa ditenteng dengan satu tangan.
Sepeda gunung berkelas ini antara lain bermerek Canondale buatan Cannondale Bicycle Corp. Terakhir, perusahaan pembuat mobil Audi juga memproduksi sepeda yang diberi nama Audi Bicycle, Mountain Bike Cross Pro. Audi mematok harga sepeda per unit Rp 33 juta.
Frame sepeda gunung yang ditawarkan Audi terbuat dari aluminium dengan desain khusus untuk cross country yang full suspensi. Remnya menggunakan rem cakram, disk brake Magura Marta yang kuat mencengkeram. Cocok untuk digunakan dalam kota yang banyak sepeda motor dan mobil yang kadang-kadang berhenti mendadak.

Sepeda gunung umumnya menggunakan shokbreker, baik di bagian depan, tengah, maupun belakang. Sepeda buatan Audi juga demikian. Namun, Audi membuatnya sangat terbatas, hanya 200 unit. Perusahaan otomotif ini tampaknya tahu bahwa konsumen sepeda yang dibuatnya hanya untuk kalangan tertentu, yaitu kalangan menengah ke atas, orang yang tidak sayang membeli sebuah sepeda dengan harga puluhan juta rupiah.

Seperti dituturkan Doni dari komunitas MTB Indonesia, penggemar sepeda gunung atau MTB pada umumnya orang- orang mapan yang mempunyai penghasilan lumayan. Sebagai gambaran, para biker yang masuk dalam kelompok MTB Indonesia berusia antara 30 hingga 40 tahun. Mereka umumnya berpendidikan dan berpenghasilan memadai untuk kebutuhan hidupnya.
Memang jumlahnya tidak banyak Setidaknya jumlah mereka bisa dilihat melalui komunitas mereka yang sering mengirim pesan melalui jaringan internet. “Jumlah mereka yang aktif di internet sekitar 1.600 orang. Mereka aktif membuka e-mail dan website yang dikelola MTB Indonesia,” tutur Doni. Ke-1.600 biker itu tentu belum termasuk ribuan biker yang tersebar di Tanah Air yang tidak memanfaatkan internet sebagai sarana komunikasi.
Mereka itu adalah masyarakat konsumen sepeda gunung. Belum lagi pengguna sepeda biasa, bukan sepeda gunung yang banyak kita jumpai di permukiman-permukiman dan di jalan-jalan. Berbagai merek sepeda hadir di tengah masyarakat.
BERBAGAI sepeda telah hadir di tengah masyarakat sejak akhir tahun 1800-an. Masing- masing merek sepeda punya penggemar fanatik. Seperti sepeda Simplex yang diproduksi mulai tahun 1887 oleh kelompok usaha Simplex Automatic Machine Company di Utrecht, Belanda, sampai sekarang masih saja dicari-cari oleh penggemarnya atau orang-orang yang mendengar cerita tentang keunggulan sepeda itu.

Banyak orang yang mendapat cerita kehebatan sepeda-sepeda kuno, seperti Simplex, Fongers, Burgers, Gruno, Juncker, dan Gazelle, merasa penasaran untuk membuktikan kehebatan sepeda-sepeda itu. Pencarian dilakukan hingga ke bengkel- bengkel sepeda, ke desa-desa, tetapi dalam setahun belum tentu mendapatkan sepeda tua yang dimaksud.
Masih ada memang sepeda kuno, tetapi kebanyakan sudah berada di tangan kolektor. Dalam genggaman kolektor, sepeda kuno dihargai lebih mahal daripada sepeda baru. Seorang pemilik bengkel sepeda di Bandung Selatan mengoleksi sejumlah sepeda kuno. Beberapa di antaranya sepeda Simplex, Gazelle, dan Fongers.

Sepeda Fongers yang dimilikinya masih lengkap dan asli. Pelat mereknya juga masih menempel kuat sehingga meyakinkan orang-orang yang belum paham tentang sepeda sekalipun. “Berapa sepeda ini mau dijual,” tanya Kompas. Pemilik sepeda itu hanya tertawa kecil sambil mengelus-elus sepedanya.
“Sepeda ini pakaian saya. Sering saya bawa ke undangan perkawinan. Pernah ada yang menawar Rp 5 juta, tetapi tidak saya kasih. Sepeda saya yang satu ini tidak akan saya lepas. Enggak tahu ya kalau saya sudah mati, mungkin sepeda ini baru bisa dijual oleh keluarga saya,” papar pemilik sepeda yang membuka bengkel sepeda di bilangan Bale Endah, Bandung, itu.

Memiliki sepeda kuno bermerek terkenal tak ubahnya punya mobil antik. Ada sesuatu yang ingin dipamerkan untuk orang lain. Ke mana-mana menjadi perhatian orang. “Coba bawa sepeda ini ke pasar, dan berhenti, nanti kan banyak orang yang bertanya mengenai sepeda ini. Dan, ujung-ujungnya ditawar untuk dibeli. Kadang-kadang saya capek menjawabnya,” tutur H Soleh (55), pensiunan tentara yang tinggal di Bale Endah. Ia memiliki dua sepeda, masing-masing BSA dan Simplex. Sepeda kuno buatan Jepang, China, Inggris, dan Amerika Serikat juga tidak kalah menarik. Namun, mitos yang terbangun di Indonesia mengenai dalam produksi sepeda Jepang dan China tidak sehebat sepeda-sepeda buatan Eropa, seperti Inggris, Jerman, dan Belanda.
Bengkel sepeda kuno milik Sainin (57), di Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh, Tangerang, menjual sejumlah sepeda buatan China dan Eropa. Menurut pengakuan Sainin, sepeda yang dicari-cari orang masih sepeda buatan Eropa. “Sepeda Eropa katanya terkenal kuat. Semakin lama semakin kuat,” tuturnya.
Pada umumnya sepeda kuno untuk santai, jalan-jalan sendiri atau bersama-sama. Belakangan komunitas sepeda kuno yang sering disebut sepeda ontel ini juga sudah terbentuk. Mereka kadang-kadang berkumpul pada hari Minggu di sekitar Monas, Jakarta.
Di tempat yang sama juga sering berkumpul komunitas sepeda gunung. Mereka ini biasanya menggenjot sepeda hingga pelosok pinggiran Jakarta. Tetapi banyak juga yang mengangkut sepeda mereka dengan mobil lalu dibawa ke Puncak, Cianjur, atau ke daerah Ciater, Subang. Setelah itu, mobil diparkir di suatu tempat, lalu sepeda digenjot menyusuri perkebunan teh di kawasan itu. Fantastis memang! (M Nasir …KOMPAS)

sumber bacaan di ambil dari situs MTB-Indonesia yang bisa diklik di sini

2 responses to this post.

  1. Ada bocoran sebuah partai sedang menggalakkan program lingkungan dan menyasar para work to bikers. Lingkungan nomor satu lah..PS. reviewnya blum sempat ditengok, di link reviewer ? say ceknya di link referral. makasih dah mampir. tukeran link gimana ? rencana blog mau saya expor ke disuatuketika.blogspot.com. tapi saya gak yakin ni mas ? any suggestion ??

    Reply

  2. link referal sudah berubah menjadi linkviewer. kenapa di ganti lagi blognya?? mending kembangkan yang sudah ada

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: