>Sepeda, Hobi, Dengkul…

>

KULIT wajah Hanny yang hitam berkilat memantulkan cahaya petromaks yang menyinari keringat di wajahnya. Bau tanah basah setelah hujan bersama turunnya malam menemani Hanny menyeruput teh manis di M’pok Cafe, sebuah warung di belokan Jalan Bumi Serpong Damai-Jombang.
Gadis berusia dua puluh tahun itu duduk santai di balai-balai warung. Asyik bercanda bersama Jajang, Wahyu, dan Ari, cerita pun mengalir. Mulai dari salah seorang kawan yang apel ke pacarnya di Malang dengan naik sepeda dari Jakarta hingga rencana mereka bersepeda gunung di malam hari. Tidak terlihat kalau beberapa menit lalu otot-otot mereka mengeras di atas sepeda, seiring turunan dan tanjakan sejauh 6,3 km di sekitar Desa Lengkong Gudang Timur, Jombang, yang kini masuk Provinsi Banten.
“Adrenalin,” kata Hanny singkat tentang alasannya bersepeda di alam. Risiko tercebur sungai atau nyungsep ke sawah dianggap biasa. Sebanding dengan kenikmatan pacuan adrenalin, misalnya, saat melihat longsoran tanah yang membentuk turunan curam berbelok. Apalagi ketika perjalanan dikelilingi hijaunya alang-alang, sawah yang membentang, udara segar, dan suara sungai mengalir di bawah jembatan bambu yang dilewati sepeda, lengkaplah sudah alasan Hanny untuk jatuh cinta pada sepeda gunung.
Hanny hanya salah satu dari penggemar sepeda gunung yang semakin hari semakin marak ini.
Ia sering berkumpul dengan komunitas Jalur Pipa Gas yang bermarkas di M’pok Cafe. Setiap Minggu, ada sekitar 200 penggemar sepeda yang mangkal di sana. “Enggak cuma di sini saja, di Jakarta, tuh, kira-kira ada 50 klub sepeda, mulai dari di kompleks-kompleks sampai di kawasan perkantoran seperti di Sudirman,” kata Kesawadjati, Ketua Komunitas Jalur Pipa Gas (JPG).
Acap bertemu di pinggiran kota, berbagai kelompok ini setiap Minggu bertemu untuk bersepeda. Sebut saja Chepot Cycling Club di kawasan Sasak Panjang, Bogor; kelompok Fuzzy Riders di Perumahan Villa Nusa Indah; kelompok Goestrust MTB Cycling Club di Pamulang; hingga KDS Andrenaline di Papua; dan berbagai kelompok lain penggemar kejutan adrenalin.
Umumnya mereka tidak ada lelahnya mencari tantangan baru dengan mencari jalan-jalan off road untuk ditaklukkan. Komunikasi dilakukan sedemikian terbuka. Kalau tidak dari mulut ke mulut, sebuah situs web menjadi sangat efektif. “Untuk biker’s Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang dan sekitarnya yang mau ikutan Down Hill di daerah Sentul, bisa kontak Mr Ogel’s 0816xxxxxx, kumpul di Restoran Padang sebelah kanan setelah pintu keluar tol Sirkuit Sentul. Jangan lupa siapkan helm dan body protektor-nya… see you… there… (… ada trek baru, untuk yang udah nyoba… ),” demikian isi posting di http://www.mtb-indonesia.com.
Kalau sudah bertemu, dunia mereka tidak lepas dari sepeda, sepeda, dan sepeda. Tujuan utamanya adalah bagaimana caranya agar bokong tidak pernah lepas dari sadel, seberat apa pun tantangan yang dihadapi. “Puas rasanya kalau bisa ngelewatin tanjakan atau turunan curam enggak pake nuntun,” kata Hanny.

Akibatnya, segala pernik dalam sepeda menjadi penting. Satu per satu bagian sepeda diperhatikan, ditambah, dikurangi, sesuai keinginan si empunya. Menurut Bagus dari Bagus Bike, Bike Shop & Accessories di Kompleks Ruko Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, proses ganti-mengganti dan copot-mencopot inilah yang membuat orang semakin asyik melakoni hobi bersepeda.
Untuk bannya saja, sudah ada banyak pilihan. Mau memilih ban cross country yang sangat ringan dan langsing hingga ban untuk downhill (turun gunung) yang gemuk dan berat. Ada pula ban tanpa kembang (slick) hingga ban dengan kembang khusus untuk medan berlumpur. Pola kembang (tread patterns) ban sangat bervariasi dan terbagi dalam beberapa jenis dengan nama-nama spesifik, seperti slick, semislick, all-purpose knobbies, dan deep tread knobbies.
Itu baru ban. Belum lagi per sepeda, suspensi shock depan belakang, frame atau batangan sepeda, pelek, handle bar atau setang, crank atau poros gigi roda, sampai aksesori bersepeda, seperti celana, baju, helm, sepatu, dan tas punggung.
Masalah mahalnya onderdil dan pernak-pernik sepeda diakui oleh Donny Prodjokusumo dari Indonesia Mountain Biking Community. Donny yang serius bermain sepeda gunung, khususnya di cross country track sejak tiga tahun lalu ini, pada awalnya mengaku sempat terkaget-kaget dengan harga aksesori sepeda yang “aje gile mahal banget”. “Saya itu tadinya cuma mau cari spedometer digital. Lha, kok, harganya sampai satu juta. Kata penjualnya, harganya memang mahal. Orang sepedanya saja lebih mahal daripada sepeda motor,” ujar Donny sambil tertawa.
Yang jelas, bagi para pencinta sepeda yang serius, terutama yang main di jalur cross country, maka syarat utama adalah sepeda gunungnya harus ringan dan mampu digeber hingga kecepatan tinggi. “Kan, biasanya kita sering harus menggotong sepeda kalau track-nya sulit dilalui sepeda,” ujar Kesawadjati.
Bayangkan saja, untuk frame atau batangan rangka sepedanya saja harganya bisa mencapai Rp 9 juta. Kalau dirakit satu per satu menjadi komplet sebentuk sepeda, harganya bisa ditaksir mencapai sekitar Rp 15-20 juta. Sementara itu, kalau mau membeli sepeda gunung standar, yang belum dimodifikasi, harganya berkisar antara Rp 3-50 juta. “Ini hobi. Orang kalau sudah hobi pasti akan melakukan apa saja, tidak peduli berapa pun harganya,” ujar Bagus yang setiap bulan kedatangan sekitar 20-30 pelanggan ke bengkelnya.
Yang jelas, ketika para pencinta sepeda sudah menaiki sepedanya, pasti itu sudah menjadi sesuatu yang addicted (menimbulkan rasa ketagihan). “Kalau sudah kena sepeda gunung, pasti ketagihan,” ujar Donny sambil tertawa.
Bagi para maniak sepeda, sepeda memang sudah menjadi curahan kasih sayang. Lewat sepeda, mereka bahkan menemukan dunia di luar kehidupan mereka sehari-hari, baik dari segi lingkungan komunitas maupun alam bebas dekat, namun berbeda dengan deru kota besar yang setiap hari ditemui.
“Rasanya kalau sudah di atas sepeda dan menikmati angin, saya lupa bahwa Jakarta ini makin sumpek,” kata Mathias Muchus (46), aktor kawakan yang tidak jarang mencoba rute luar kota seperti Yogyakarta atau Bandung. Sebagai orang yang gila sepeda, ia tidak segan-segan bersepeda ke lokasi shooting. Bahkan, saat subuh ia pernah pulang dari lokasi shooting di Salemba dengan naik sepeda ke rumahnya di kawasan Bintaro. Setiap Sabtu dan Minggu, Mathias sering bersepeda menyusuri jalan sampai sejauh 60 km dari rumah ke Halim, Depok, atau Kemayoran. Itu dilakukannya bergantian.
Mathias mengaku, ia belajar mengelola emosi lewat bersepeda. Bersepeda mengajarinya kapan harus sprint, kapan harus berjalan pelan, kapan meninggalkan rombongan, dan kapan harus menyatu lagi. “Orang mengira saya sepeda untuk fun. Padahal, saya bersepeda tidak hanya untuk kebugaran fisik, tetapi juga emosi,” kata Mathias.
Hal serupa dikatakan Sekretaris Jenderal Ikatan Penggemar Sepeda Jakarta (IPSJ) Perry H Josohadisoerjo. Menurut dia, selain untuk kesehatan, bersepeda juga bagus untuk menghilangkan stres dan membina mental.
Selain bersepeda sendiri setiap hari Sabtu di kawasan Sudirman Central Business District, Perry bersama kawan-kawan IPSJ juga rutin bersepeda pada hari Minggu pagi sepanjang sekitar 60 km keliling Jakarta. IPSJ juga rutin mengadakan acara bersepeda keluar kota sebulan sekali, bahkan ke luar negeri setahun sekali. “Tahun lalu kita ke Belanda dan Inggris,” katanya.
Perry yang memiliki satu dari 62 edisi khusus sepeda Colnago hasil desain Ferrari yang tersebar di seluruh dunia mengatakan, salah satu enaknya bersepeda adalah tidak memancing kecemburuan sosial. “Hanya sedikit sekali orang yang tahu kalau sepeda ini mahal,” kata pemilik sepeda yang beberapa komponennya terbuat dari emas itu.
Perry mengakui, sebagian besar anggota IPSJ berasal dari kalangan menengah ke atas. Tidak heran kalau harga sepeda mereka berkisar pada bilangan Rp 40 juta.
Menurut Perry, harga itu layak untuk sebuah sepeda yang ringan, aerodinamisnya baik, nyaman. Namun, baik Perry maupun Mathias Muchus mengatakan, daripada sepeda mahal, yang penting adalah “dengkul” atau stamina si pengendara. Tanjakan dan panjangnya rute membawa hasil badan segar berkeringat. Sementara itu, pikiran pun segar dengan pemandangan baru dan senda gurau antar-anggota klub. “Mulai dari pemilik show room mobil yang gagap bahasa Indonesia sampai asisten menteri enggak tersinggung kalau cela-celaan,” kata Perry yang sudah inden dengan sepeda Colnago Ferrari keluaran beberapa tahun lagi.
Mungkin Freddie Mercury pun tengah naik sepeda ketika ide lagu Bicycle Race muncul di kepalanya:
Bicycle races are coming
your way
So forget all your duties
oh yeah …
I want to ride my bicycle
I want to ride it where
I like ….
(LUK/CAN/EDN…KOMPAS)

sumber berita klik di sini

3 responses to this post.

  1. >Harus belih sepeda biar merasakan ketagihannya…hidup sepeda gunung………!!!

    Reply

  2. >emang asyik banget mas, sepeda'an di pegunungan..memacu adrenalin juga.. hehhe..kunjungan malam di rumah sobat😀

    Reply

  3. >just keep on biking coy… Karena Sepeda akan jadi kendaraan alternatif masa depan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: