>Belajar Tentang Kejujuran

>

Kemarin, 22 Juni 2010, saya berangkat ke Mataram (ibu kota NTB) menggunakan bis Langsung Indah. Tetapi sehari sebelumnya, saya sudah memesan tiket lewat agen bis tersebut. Saya cuma bisa membayar panjar tiket karena kehabisan uang dan akan saya lunasi pada saat keberangkatan.
pukul H keberangkatan, lapor tiket pada petugas yang sudah ditunjuk oleh agen bis. Saya melunasi hutang tiket. Kekurangan uang tiket saya sebesar Rp. 180.000 (seratus delapan puluh ribu rupiah)tetapi uang Rp. 200.000 (Dua Ratus Ribu Rupiah) saya setorkan ke petugas.
Pada saat itu, petugas bis tidak memiliki cukup uang kembalian. Masih tersisa Rp. 10.000 (Sepuluh Ribu Rupiah) yang belum dikembalikan kepada saya. Petugas tersebut berjanji akan mengembalikan uang saat bis akan berangkat. Saya mengiyakan.

Supir bis sudah bertengger di kursi kebesarannya, klakson bis sudah dibunyikan, pertanda keberangkatan. Para penumpang, tidak terkecuali saya naik dan menempati seat masing-masing.
Masih ada uang saya yang tersisa dan petugas yang sudah berjanji pada saya tidak juga muncul. Saya bertaruh dengan diri sendiri, uang saya pasti tidak kembali, tetapi masih ada secuil dalam hati saya, petugas tersebut akan menepati janjinya.
Bis perlahan bergerak. Bagian lain dari dalam diri saya yang mewakili sisi buruk bersorak kegirangan karena uang saya tidak akan kembali. Pada sisi lainnya, sisi tersuci dalam diri saya masih memberikan semangat. Perang terjadi.
Saya sudah mengikhlaskan uang yang tidak seberapa besar tersebut. Dia pasti lebih membutuhkannya, batin saya.
Bis tetap melaju dengan kecepatan rendah. Perlahan bagian depan sudah meninggalkan terminal. Pintu tiba-tiba terbuka. Sesorang naik dan meneriakkan nama saya. Karena nama saya disebut sayapun berdiri. Orang tersebut mendekat.
“Pak ini uang kembalian yang masih kurang” katanya. Tuhan, saya tidak menyangka ini terjadi. Saya mengucapkan terima kasih. Saya terkesima.
Orang tersebut menghilang, sesaat kemudian bis melaju kencang.
Masih ada kejujuran di sini, di terminal yang terkenal dengan stigma kumpulan orang-orang jahat atau kumpulan preman. kejujuran itu masih terbayang di mata saya. Sambil duduk, saya menerawang. Begitu banyak berita orang-orang korupsi yang diseret oleh KPK, yang menjadi bulan-bulanan media akibat ketidakjujuran.
Saya masih terkesima, sampai hari ini saat saya posting tulisan ini, wajah orang tersebut masih terbayang. Pekerja keras yang menghidupi anak istrinya dengan uang hasil jerih payah yang didapat dengan halal. Kenapa kita tidak belajar dari dia??

5 responses to this post.

  1. >^_______^belajar tentang kehidupan dari lingkungan lbih bisa masuk ke hati sama jiwa.. engga boleh negative thinking dulu.. hehhee:DMkashy buat komentar dan kunjungannya

    Reply

  2. >wah.. memang kejadian yang jarang.. tapi ternyata justru dari orang kecil kita belajar sesuatu, bukan dari orang berdasi🙂

    Reply

  3. >ironi kehidupan. kejujuran makin langka dan "aneh" adanya.

    Reply

  4. >oh, menyentuh, moga masih ada kejujuran dimana saja neh, thanks ceritanya, mencerahkan…

    Reply

  5. >jujur memang selalu dipujapuji, namun sekarang ini, amat jarang yang masih memiliki. hiks…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: