>Merantau dan Kuliah

>

Sambil menunggu adzhan shubuh dan Fajar pagi, setelah menonton pertandingan sepak bola piala dunia antara Belanda dan Uruguay, dengan kemenangan tim oranye skor 3-2, biar gak ngantuk dan bablas sholat shubuhnya, mending posting saja.
Terminal Bima, kemarin, penuh sesak oleh penumpang bis dan para pengantar. Saat ini memang musim liburan dan musim anak-anak muda yang baru lulus SMA, merantau mencari ilmu atau melanjutkan study baik di ibu kota provinsi (Mataram) maupun ke tanah Jawa.
Untuk daerah Jawa, tempat favorit abegeh Bima biasanya di Malang, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Bandung dan Jakarta/Bogor. Dari beberapa kota besar di atas, Malang dan Yogyakarta merupakan kota favorit untuk melanjutkan kuliah bagi sebagian besar angkatan muda Bima. Sudah turun temurun, dari generasi ke generasi dua kota itu tetap mendapat rangking teratas untuk tujuan kuliah.
Daerah di luar Jawa, Makassar merupakan tempat untuk melanjutkan kuliah favorit, dan posisinya tidak mampu terkalahkan oleh daerah manapun, karena memang Makassar memiliki pusat pendidikan yang tidak kalah lengkap dari Perguruan Tinggi- Perguruan Tinggi yang ada di tanah Jawa.

Sudah tradisi, para orang tua menyekolahkan anak-anak mereka pada jenjang yang lebih tinggi (masuk perguruan tinggi). Sekarang sudah menjadi simbol keberhasilan dan rasa bangga serta gengsi para tetua di Bima, apabila mampu membiayai kuliah anaknya sampai berhasil atau sampai wisuda atau mendapat gelar sarjana.
Jika anda bertamu atau ngobrol dengan para orang tua, keberhasilan mereka menyekolahkan anak-anaknya di Perguruan Tinggi akan dengan senang hati diceritakan kepada anda. Biasanya kalimatnya begini : Anak saya 3 orang sudah kuliah semua, yang pertama di perguruan tinggi ini…yang kedua di sono..yang ketiga di situ…
Sebuah budaya yang sangat bagus, rasa gengsi diposisikan pada tempat yang sangat tepat, sehingga orang tua berlomba mencari nafkah tempat kuliah yang bagus untuk masa depan anak-anak mereka.
Banyak anak-anak muda yang baru lulus berangkat, merantau mencari ilmu yang lebih tinggi untuk mendapat kehidupan yang baik di masa depannya. Tetap memang tidak semuanya pulang dengan hasil yang bagus dan memuaskan. Akan ada seleksi alam yang akan menguji tingkat kecerdasan mereka dalam bentuk spritual, emosi dan intelejensia.
Banyak dari mereka yang kaget akan perubahan budaya dan gaya hidup, seperti yang sudah pernah saya tulis di sini. Memang sangat banyak godaan, itu saya akui dan sudah saya alami saat saya kuliah dulu pada rentang waktu tahun 2005 sampai 2008 di Semarang dan tahun 2008 sampai 2002 di Jakarta.
Godaan untuk mencicipi kehidupan malam dengan segala hingar bingarnya, masuk diskotik atau dugem, godaan narkoba dan teman sebangsanya, godaan sex bebas dan akhirnya seperti surti dan tejo, karena memang sudah tidak ada lagi yang mengontrol seluruh aktivitas, kecuali membentengi diri dengan kesadaran bahwa tujuan merantau adalah untuk mencari ilmu pengetahuan. Di sinilah perlunya kecerdasan yang saya maksudkan.
Yang lolos seleksi alam, adalah orang-orang pilihan yang telah mampu menaklukkan semua yang sudah saya tulis di atas, dan mereka biasanya mendapat kehidupan yang mapan setelah berkecimpung pada pekerjaan yang mereka geluti.
Banyak yang sudah mengharumkan nama Bima, dan harus diberi apresiasi bahwa mereka adalah anak-anak zaman yang telah mampu menjadi generasi pilihan.
Bangganya menjadi salah satu orang tua dari mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: